Napak Tilas Bom Bali: Intel dan Bom

Koran The Manila Times edisi 29 Mei 2002 melaporkan, seorang Amerika, Michael Meiring, 65 tahun, ditemukan putus kakinya dan mengalami luka bakar pada beberapa bagian tubuhnya, karena meledaknya sebuah bom berkekuatan tinggi miliknya pada 16 Mei 2002, di sebuah kamar Evergreen Hotel di kota Davao, Filipina. Jaksa Davao, Raul Bendico, baru mengetahui kemudian bahwa Meiring anggota intel Amerika kelas kakap. In absentia, oleh Raul Bendico, ia dituduh sebagai teroris dengan “pemilikan bahan ledak secara tidak sah dan kelalaian menangani material bahan berbahaya.”

Begitu peristiwa itu terjadi, staf Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika bergegas ke tempat kecelakaan, dan para anggota National Security Agency, CIA dan FBI memblokir tempat tersebut. Tidak ada orang yang boleh masuk kecuali dokter kedutaan yang mendampingi Meiring yang, dengan pengawalan polisi, dilarikan hari itu juga dengan pesawat carter ke San Diego, Amerika. Penyelamatan Meiring dilaksanakan atas perintah langsung Presiden George W. Bush dengan persetujuan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo. Seorang rekan Meiring mengatakan, ia membawa sepucuk surat dari Kedubes Amerika di Manila. Isinya: Meiring tidak bisa dituduh dengan dalil apa pun berkenaan dengan kejahatan kasus peledakan itu.

Koran The Philipine Star dalam investigasinya melaporkan, Meiring tiba di Filipina pada 1992, dikenal sebagai “orang kaya” dengan usaha dibidang macam-macam, terutama mencarai “barang antik”, menggunakan nama perusahaan Porousia International Trading Co. Dalam tempo 10 tahun, ia berhasil membina hubungan baik dengan para pejabat sipil dan kepolisian di Mindanao Selatan, dan di balik itu juga dengan tokoh-tokoh dari MNLF Nur Misuari, MILF Hashim Salamat, Panglima Tentara Rakyat Baru (NPA) Romo Navarro, Panglima MNLF Tony Nasa, serta tokoh-tokoh yang dibutuhkannya untuk berhubungan dengan kelompok Abu Sayyaf.

Diketahui, Meiring memberikan dukungan dana, baik kepada MNLF, MILF, maupun kelompok Abu Sayyaf, dengan dalih sebagai pembayaran untuk pembelian “barang antik”. Itu ternyata merupakan suatu komplotan bersama agen-agen intel CIA, Bob Gould, Frederick Obado, dan Nina North, dengan alamat Fremont di California, dengan para pejuang Islam fundamentalis untuk mengacau di Sabah, Malaysia Timur.

Meiring dan komplotan CIA-nya sedang mendorong suatu rencana pengacauan di Sabah oleh kaum fundamentalis muslim Bangsa Moro di bawah bendera “Borneo National Liberation Front” dalam rangka pembentukan “The United States of Mindanao and North Borneo”. Hubungan haram antara CIA dan Abu Sayyaf tidak usah bikin heran. Senator Filipina Aquilino Pimentel menyatakan, Abu Sayyaf adalah kelompok yang “diorganisir, dibiayai, dan dilatih mula pertamanya oleh dinas rahasia Ronald Reagan”. Perkara CIA gemar mengobok-obok negeri orang juga bukan hal luar biasa. CIA bahkan gemar memanipulasi negerinya sendiri.

Pada akhir pekan, 18-19 Oktober 1980, seorang mantan dan seorang lagi calon pemimpin CIA di Paris, Prancis, bertemu dengan utusan dari suatu “rezim teroris”. Mereka merancang bagaimana memanipulasi hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat yang akan berlangsung. Sebenarnya, kegiatan seperti itu sudah dapat dikategorikan pengkhianatan terhadap negara. Tetapi, kegiatan semacam itu tidak terlalu diambil pusing oleh George Bush (sepuh), Kepala CIA pada waktu itu, serta William Casey, calon penggantinya. Mereka berunding dengan utusan Ayatullah Rohullah Khomeini, membahas agar 52 diplomat Amerika yang disandera di Kedubes Amerika di Teheran tetap terus ditahan sampai selesainya kontes pemilihan Presiden Amerika pada November 1980, antara Presiden Jimmy Carter dan penantangnya, Ronald Reagan.

Bush dan Casey dikirim ke Paris untuk bertemu dengan utusan Khomeini, menawarkan kesepakatan rahasia –agar Iran tetap menyekap para sandera Amerika itu sampai Reagan berhasil masuk ke Gedung Putih. Apa iming-imingnya? Kalau menang, pemerintahan baru Reagan-Bush akan memasok peralatan militer kepada Iran secara rahasia.

Pemerintahan Ayatullah Khomeini memutuskan: setuju mendukung pasangan Reagan-Bush; Iran akan terus menahan para sandera itu sampai menit-menit terakhir diraihnya kemenangan oleh Reagan atas Jimmy Carter. Hasilnya, Reagan memenangkan kontes kepresidenan karena “berhasil membebaskan sandera” Amerika di Teheran. Kemudian, sebagaimana diketahui, sogokan berupa perlengkapan militer Amerika yang dijanjikan Bush dan Casey diurus seorang agen CIA, Letnan Kolonel Oliver North, yang ketika bocor kondang dikenal dengan “skandal Iran-”.

Tetapi, Iran juga ditipu Reagan. Sambil mengirimkan senjata-senjata itu ke Teheran, Reagan dan Bush diam-diam merangkul musuh bebuyutan Khomeini: Saddam Hussein. Amerika memasoknya dengan persenjataan, membantu invasinya ke Iran, mendukungnya dengan intelijen militer, dan membiarkan Saddam menghabisi tentara dan penduduk sipil Iran dengan senjata kimia beracun. Ketika George Bush sepuh naik ke Oval Office menggantikan Reagan, ia mengirimkan berton-ton material dan teknologi untuk memberi kemampuan kepada Saddam Hussein mengembangkan persenjataan biologi, kimia, dan nuklirnya.

Maka, jika sekarang Saddam Hussein dituduh memiliki kemampuan mengancam dunia dengan senjata biologi, kimia, dan senjata-perusak-massal (WMD), penanggung jawab sebenarnya tidak lain adalah George Bush sepuh. Walter Lippmann menyebutkan, “penukangan” semacam itu tidak pernah lepas dari tangan CIA dan organisasi semacamnya.

Indonesia sudah lama dituduh sebagai mata rantai paling lemah dalam upaya perang melawan terorisme di Asia Tenggara. Selama ini, para pejabat Indonesia bersikeras, Al-Qaeda tidak ada di Indonesia. Lima bulan lalu, Mabes Polri pernah mewawancarai tokoh yang disebut-sebut pihak Amerika sebagai bos jaringan teroris di Indonesia, Ustad Abu Bakar Ba’asyir, dan melepaskannya dengan keterangan, “Ba’asyir tidak terlibat dalam jaringan ataupun kegiatan terorisme.”

Ledakan bom di Bali yang begitu dahsyat, konon dilihat dari jumlah korban yang jatuh adalah yang kedua terbesar sesudah serangan terhadap Gedung WTC New York, harus dibaca sebagai peringatan kepada Indonesia. Karena? Tidak sampai satu hari, Washington, London, Canberra, tanpa banyak pikir memvonis, bangsat di belakang peledakan itu adalah Muhammad Khalifah, adik ipar Osama bin Laden dari Al-Qaeda. Karenanya, Indonesia tidak boleh lagi ragu-ragu menindak jaringan Al-Qaeda yang ada di Indonesia.

Dari begitu dahsyatnya akibat yang ditimbulkan bom tersebut, dan ciri-ciri yang ada, Joe Vialls, pakar bahan peledak, sampai berucap, “hanya idiot” yang menolak bahwa bom itu bukan dari jenis nonkonvensional.

Kesimpulan banyak pihak, terakhir kesaksian Kapten Jonattan Garland, perwira Angkatan Darat Australia, yang ada di situs kejadian, memperkuat kesimpulan tentang digunakannya senjata nonkonvensional di Legian, Bali.

Bom itu sendiri, terlepas dari berbagai analisis tentang artinya bagi Indonesia, dapat dibaca sebagai pretext kepada Amerika untuk melakukan serbuan ke Irak, karena dosa-dosa Al-Qaeda di pantai Legian-Kuta, met of zonder resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana pemboman WTC, menjadi dalih bagi Amerika untuk melancarkan serbuan ke negara miskin Afghanistan. Amerika selama ini menuduh Irak telah memberikan dukungan dana dan sebagainya kepada Al-Qaeda, suatu tuduhan yang tidak masuk akal, mengingat Al-Qaeda yang Wahhabi-fundamentalis tidak akan bersedia bekerja sama dengan Saddam Hussein yang sekuler-marxis.

Bom seperti yang meledak di Bali begitu dahsyatnya, teknologinya belum dikuasai kelompok yang gila sekali pun di Indonesia. Dapat diduga, itu hasil kerja profesional dari luar Indonesia, barangkali dibantu kelompok “locals”. Keduanya tampaknya tidak pernah akan terungkap.

Namun, kasus gegernya parlemen Taiwan menuntut dipecatnya Menteri Luar Negerinya –karena sudah mengetahui akan ada peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002, konon berkat tips dari CIA– mengungkap siapa sebenarnya yang berada di belakang pemboman di Bali (http.//taiwannews.com, 15 October 2002).

Sebagaimana kisah tentang Mister Meiring tadi, pemerintah asing, bahkan International Crime Court di Den Haag, Belanda, sekali pun, tidak sanggup menjamah warga negara Amerika yang terlibat kasus kriminal perang di luar negeri. Maka, kasus ini akan terus gelap, dan korban-korban kambing hitam akan terus berjatuhan.

Belajar dari kasus adu domba Irak-Iran dan Sabah tadi, seorang Indonesianis, Daniel Lev, memberikan saran kepada Pemerintah Indonesia agar tidak terseret pada kepentingan asing jangka pendek, dan lebih baik memberikan perhatiannya pada kepentingan nasional Indonesia jangka panjang.

Kita diuji, sesudah peledakan bom Bali, apakah masih mampu menegakkan politik luar negeri yang bebas-aktif, kebijakan dalam negeri dengan kepala tegak, dan kemampuan menegakkan yurisdiksi hukum nasional kita yang berdaulat berdasarkan keadilan dan kebenaran dalam menangani kasus-kasus terorisme di Indonesia. Wallahua’lam bis-shawab.

(ZA Maulani, Mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s