KONTROVERSI KONTRA INTELEJEN HABIB PALSU ABDURRAHMAN ASSEGAF

Narasumber

Narasumber: Dadang Kurniawan (parung-bogor)

Agustus 2010-Saya (dadang kurniawan) dan beberapa orang tokoh masyarakat parung-bogor, pada tanggal 8 juli 2005 mengadakan rapat bersama dengan tujuan untuk menegur pimpinan ahmadiyah di parung dengan cara yang baik. Didalam rapat itupun saya mengundang habib abdurrahman assegaf.

Habib abdurrahman assegaf tidak sepakat jika pimpinan ahmadiyah ditegur secara baik-baik, akhirnya tanpa sepengetahuan si habib, kami mendatangi markas ahmadiyah dan menjumpai pimpinannya, lalu kami bicarakan dengan secara baik-baik mengenai ketidaknyamanan kami sebagai masyarakat parung dengan aktivitas yang dilakukan oleh kelompok ahmadiyah tersebut.

Dari hasil perjumpaan kami itu, akhirnya terjadi kesepakatan, bahwa pimpinan ahmadiyah berjanji akan mengurangi aktivitas kelompoknya tersebut. Kami bersyukur karena pimpinan ahmadiyah mau mengerti dan memahami maksud dan tujuan kami itu.

Hingga pada suatu hari, tanggal 10 juli 2005 (hari minggu),saya (dadang kurniawan) ditelepon oleh habib abdurrahman assegaf untuk menemuinya ditempat kediamannya di Jalan Keramat Tajur No 2, RT 03 RW 04, Desa Pemagarsari, Parung.
ia mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan saya. Ketika saya sampai dikediamannya, ternyata si habib tidak sendiri. Didalam ruang tamunya terlihat 7 orang laki-laki mengenai baju muslim, lalu saya diperkenalkan oleh si habib mengenai tujuh orang tamunya tersebut.

Ternyata, setelah mengobrol basa-basi akhirnya sayapun mengetahui bahwa 7 orang laki-laki tersebut adalah 4 orang dari TNI yang mengaku sebagai intel dari korem suryakencana bogor dan 3 orang lagi mengaku sebagai intel dari kepolisian polres bogor. Mereka menyatakan bahwa telah diperintahkan oleh komandan mereka untuk menciptakan kerusuhan dibogor, dan menurut mereka ahmadiyah cocok sekali untuk dijadikan alasan sebagai pemicu kerusuhan.

Saya sempat terheran-heran dengan ucapan 7 orang intel tersebut, karena setahu saya institusi TNI dan polri seharusnya menciptakan suasana yang kondusif terhadap suatu wilayah dan bukannya membuat kekacauan. Akan tetapi unek-unek dan keheranan saya itu cuma saya pendam saja dan tidak saya utarakan.

Jadi pada kesimpulannya, saya disuruh untuk merekrut massa sebanyak-banyaknya untuk melakukan penyerbuan ke markas ahmadiyah parung. Salah seorang TNI yang ada diruangan itu menyodorkan bungkusan yang berisi uang kepada saya, lalu katanya, “kang ini uang 30 juta tolong dibagikan pada massa yang akan akang bawa untuk menyerbu markas ahmadiyah, dan kalau ada yang belum kebagian nanti sesudah penyerbuan saya akan kasih jatahnya melalui akang..”

Kemudian TNI salah seorang TNI tersebut memberikan uang senilai Rp. 10 juta kepada habib abdurrahman assegaf dan Rp. 5 juta diberikan kepada saya dengan alasan sebagai uang bensin. Salah seorang dari salah satu aparat kepolisian berkata kepada saya dengan agak setengah mengancam, “kang jangan coba-coba cerita sama siapa saja tentang keberadaan kami disini, kalau akang enggak mau dikarungan..”

Terus terang saya sempat ketakutan juga dengan ancaman itu, apalagi ia bicara sambil mengeluarkan pistol. Ketujuh orang laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan rumah habib, dan salah seorang TNI sempat mengucapkan, “Bib..mainnya yang cantik ya..karena ini pesanan Danrem dan Kapolwil” jawab habib, “beres..ente kaya gak tahu ane aje.”

Setelah ketujuh orang aparat tersebut sudah pergi, saya bertanya kepada habib, “Bib apa kita nggak dosa ngelakuin ini..?” jawab habib “ah..ente gimane sih..yang penting kan pulusnya, urusan dosa belakangan..lagian yang dosa bukan kita tapi yang nyuruhnye, iya kan?” habib menambahkan “lagian ini memang kerjaannya TNI/Polri yang disebut kerja kontra intelejen.sebab kalau nggak pake cara begini, karir perwira tinggi TNI/Polri bakalan mandek.ente paham kan? Eh dang..nyari duit kayak gini bukan ane aje, si Rizieq ketua FPI sama kayak ane kerjaannye, kalau nggak gitu darimane ane punya duit? Apalagi ane kan dijanjiin mau dikasih mobil-mobil mewah.”

Setelah dari pertemuan di rumah habib, saya pun mengumpulkan massa, dari pedagang dipasar, tukang ojek, pengamen dan akhirnya saya dapat merekrut massa dalam waktu 6 hari sebanyak kurang lebih 360 orang. Kemudian pada hari H-nya (15 Juli 2005), kami semua berkumpul disalah satu halaman masjid di parung setelah menunaikan ibadah shalat jumat. lalu habib berpidato memberikan semangat bagi massa yang hadir, habib mengatakan bahwa gerakan untuk menyerbu ahmadiyah ini dilakukan secara bersama-sama dengan anggota FPI parung, karena habib rizieq sudah memberi instruksi untuk melakukan penyerbuan.

Akhirnya terjadilah penyerbuan ke markas ahmadiyah, dan si habib sendiri langsung memimpin penyerbuan tersebut tapi hanya sebentar, karena setelah itu ia menghilang entah kemana lalu kembali lagi ke lokasi penyerbuan dalam keadaan sudah berganti busana dan langsung masuk ke salah satu kamar yang berada di dalam gedung Ahmadiyah, dimana akhirnya ia menginjak kitab suci Ahmadiyah dan kitab suci Al-Qur’an.

Didalam kekacauan tersebut saya sempat mengenali tujuh orang dari TNI polri yang pernah bertemu dengan saya di rumah habib dan salah seorang dari mereka membawa handicam kemudian dua orang dari mereka melemparkan batu ke arah bangunan ahmadiyah yang akhirnya diikuti oleh seluruh massa yang hadir, sehingga tindakan anarkisme tidak terbendung lagi.

Demi Allah..saya sangat bersyukur sekali dengan adanya TPFK Indonesia, karena saya dapat melepaskan unek-unek dan beban moral saya yang selama bertahun-tahun saya pendam akibat dari perbuatan saya dengan melibatkan diri meluluhlantakan bangunan markas ahmadiyah di parung.

Apalagi saya dengan mata kepala sendiri melihat habib abdurrahman assegaf menginjak-injak kitab suci al-qur’an yang ada disalah satu ruang gedung ahmadiyah yang sebelumnya oleh habib dibanting ke lantai, hati saya menjadi terenyuh karena yang di injak olehnya, saya tahu betul itu adalah kitab suci al-qur’an, walaupun sebelumnya habib abdurrahman asssegaf telah menginjak-nginjak kitab yang menjadi pedomannya kelompok ahmadiyah.

Saya sudah memberitahu bahwa yang diinjak oleh habib itu adalah alqur’an tetapi ia malah menjawab “biarin sekalian ajah udah tanggung” terus terang hati saya menolak ketika si habib dengan secara sengaja menginjak-nginjak kitab suci al-qur’an, padahal peristiwa habib menginjak-nginjak al-qur’an ini banyak saksi yang melihat, bahkan ada yang sempat memotretnya melalui Handphone(salah seorang teman saya yang tinggal di parung juga).

Akhirnya dari peristiwa tersebut saya benar-benar melakukan tobat nasuha atas keterlibatan saya dan mau diperbudak oleh habib dan TNI Polri. Selama 5 tahun lebih hidup saya benar-benar tidak tenang, akhirnya saya dan keluarga pun pindah rumah dari parung setelah satu tahun dari peristiwa penyerangan ke markas ahmadiyah. Kesimpulan saya, ternyata dibalik semua kerusuhan yang terjadi dibelakangnya ada TNI polri sebagai dalangnya.

Saya berharap semoga masyarakat parung dapat membaca tulisan saya ini, sehingga dapat dijadikan pelajaran agar jangan mudah diadu domba oleh pihak manapun dan dengan alasan apapun. Karena semua itu hanyalah hasil dari cara kerja kontra intelejen yang memang sudah diatur sedemikian rupa dengan mengorbankan rakyat yang tidak tahu menahu.

Semoga tulisan saya ini dapat dijadikan pemicu bagi masyarakat parung khususnya dan masyarakat indonesia pada umumnya untuk menuliskan ganjalan hati dan unek-unek terhadap suatu permasalahan yang tidak sepaham untuk menuangkannya ke TPFKindonesia.wordpress.com atau mengirimkannya ke tpfkindonesia@yahoo.com

Habib dengan tanpa rasa bersalah dan berdosa menginjak Al-Qur'an

Al-Qur'an seperti tidak berharga dimata Amsari Omarella

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s