KONTROVERSI HABIB PALSU DIRAGUKAN KARENA BUKAN KETURUNAN ARAB

Habib Abdurrahman Assegaf hanya tertawa ketika dikatakan ia telah memalsukan gelar habib di depan namanya. Ia menegaskan tuduhan itu hanya fitnah dari orang-orang yang tidak senang dengan dirinya.

“Yang menentukan habib atau tidaknya seseorang adalah sidang Alawiyyin (keturunan Nabi Muhammad SAW). Bukan Abu Jibril atau konco-konconya,” jelas Abdurrahman saat ditemui detikcom, usai memberikan ceramah di salah satu stasiun televisi di Jakarta, beberapa hari lalu.

Abu Jibril, anggota Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), telah menuding Abdurrahman sebagai habib palsu. “Dia bukan habib, dia preman,” ujar Abu Jibril kepada wartawan di rumahnya, Komplek Witanaharja, Pamulang, Tangerang Selatan, pekan lalu.

Menurut Abu Jibril, Abdurrahman bernama asli Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella asal Ambon. Selain itu latarbelakang Abdurrahman, lanjut Jibril, tidak mencerminkan seseorang yang bergelar habib.

Sebelum Abu Jibril yang menyatakan keraguan gelar “habib” Abdurrahman , Abu Bakar Ba’asyir, pimpinan Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah sebelumnya juga menyatakan hal senada. Ba’asyir mengatakan kalau Abdurrahman merupakan habib palsu.

“Dia itu orang jelek dan diduga informan atau orang yang dimanfaatkan kelompok lain,” jelas Ba’asyir usai berceramah di Semarang, akhir Juli silam.

Tudingan Ba’asyir dan Abu Jibril kalau Abdurrahman bukan seorang habib merujuk masa lalu Abdurrahman yang sebelumnya dikenal sebagai preman yang jauh dari kehidupan Islami.

Keraguan soal gelar kehabiban Abdurrahman juga merebak di internet. Bahkan pemimpin redaksi situs Arrahmah.com, M Fachry menulis di sebuah situs jejaring sosial menyebut, berdasarkan silsilah keluarga Abdurrahman, tidak tepat kalau pria beranak empat tersebut sebagai seorang habib.

“Informasi yang kami terima dari teman sekolahnya di SMPN 2, Mardani Raya,Jakarta Pusat, dia dikenal dengan nama Amsari Omarella. Ibunya berasal dari Ambon, dan ayahnya dari Makasar. Jadi gelar habib yang disandangnya sangat jauh,” jelas Fachry.

Masih dari informasi yang diterima Fachry, selepas SMP 2, Abdurrahman melanjutkan sekolah ke SMAN 68 pada 1985 dan kemudian kuliah di Universitas Krisnadwipayana, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Dari informasi yang didapat Fachry, selama bersekolah di SMAN 68, sosok Abdurrahman biasa-biasa saja. Selain itu Abdurrahman tidak begitu suka dengan kegiatan rohis dan tidak mendukung pemakaian jilbab pada masa itu.

Keanehan lainnya, Abdurrahman sempat menunjukan sertifikat yang menyatakan kini dirinya sudah resmi menjadi seorang habib kepada teman-temannya. “Apakah gelar habib harus dikeluarkan melalui sebuah sertifikat?” tanya Fachry.

Sementara sumber detikcom yang mengaku mengenal Abdurahman sejak tahun 2000, mengatakan, sebelum muncul di media massa dengan gelar habib, sosok Abdurrahman memang dikenal sebagai preman yang suka mabuk-mabukan.

Saat itu, kata sumber tersebut, Abdurrahman dikenal dengan nama Abdul Haris. Sejak tahun 1990-an Abdul Haris diketahui sering nongkrong di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain itu Abdul Haris juga aktif di salah satu ormas kepemudaan.

Kemudian Abdul Haris ditengarai mulai menjadi binaan polisi sejak 2001. Ia diduga dimanfaatkan polisi untuk melakukan aksi pembusukan dalam setiap aksi yang dilakukan beberapa ormas Islam.

Sumber itu lantas menyebutkan, Abdul Haris alias Abdurrahman telah disusupkan dalam setiap aksi pembubaran Ahmadiyah. Sehingga gerakan untuk membubarkan Ahmadiyah menjadi bias.

“Saat pengepungan kampus Mubarok, milik Ahmadiyah, ia tiba-tiba muncul diiringi sejumlah wartawan dan memberi keterangan pers. Padahal saat perencanaan pengepungan ia tidak terlibat,” jelas sumber detikcom, yang merupakan seorang aktivis Komando Laskar Islam (KLI).

Keraguan nasab atau garis keturunan Abdurrahman yang dianggap bukan berasal dari Timur Tengah, khususnya Yaman dan Arab Saudi membuat beberapa kalangan semakin ragu kalau Abdurrahman bukan habib beneran alias palsu. Sebab untuk mendapat gelar itu perlu penguraian silsilah keluarganya.

Menurut Habib Abdurrahman Al Habsyi, sebutan atau gelar habib di kalangan Arab-Indonesia dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah Az-Zahra dan ‘Ali bin Abi Thalib. Habib yang datang ke Indonesia mayoritas adalah keturunan Husain bin Fatimah binti Muhammad. Jumlah para habib yang ada di Indonesia diperkirakan lebih dari 1 juta orang.

Mereka sangat dihormati di Indonesia karena dianggap sebagai tali pengetahuan yang murni, karena garis keturunannya yang langsung dari Nabi Muhammad.

Adapun untuk menentukan seseorang itu habib atau bukan adalah Ar-Rabithah atau Jamiat Khair. Organisasi ini memang tugasnya mencatat silsilah keturunan Ahlul Bait (keturunan Nabi Muhammad SAW). “Untuk menentukan apakah seseorang berhak digelari habib harus menyebut paling sedikit 5 keturunannya dari atas atau 5 Bin” jelas Al Habsyi.

Lima nama keturunannya antara lain, ayah, kakek, buyut dan seterusnya. Dari nama-nama yang disebutkan itu, Ar-Rabithah akan mengetahui keterkaitannya dengan nama-nama yang masuk dalam silsilah dari garis keturunan Rasulullah.

Al Habsyi tidak memastikan apakah Abdurrahman merupakan habib atau tidak sebelum melihat sertifikat yang dimiliki pria yang berseteru dengan Abu Jibril itu. “Kalau memang Abdurrahman seorang habib dia harus menunjukan sertifikat kehabiban yang dikeluarkan oleh Ar-Rabithah. Karena itu sebagai bukti otentik,” kata Al Habsyi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s