DAJJAL MENGERAM DI DALAM TUBUH INTELEJEN

Narasumber

Narasumber: Damien Nasution

Ketua API (Aliansi Pengamat Intelejen)

Saya (damien) dan teman-teman sesama anggota aliansi API begitu terkagum-kagum terhadap bapak Dadang Kurniawan dalam tulisannya yang berjudul KONTROVERSI KONTRA INTELEJEN HABIB PALSU ABDURRAHMAN ASSEGAF yang telah berani menuangkan tulisannya di TPFK Indonesia tentang adanya konspirasi Kontra Intelejen didalam setiap kerusuhan-kekacauan yang terjadi selama ini.

Sebenarnya sudah sangat lama sekali saya dan teman-teman kelompok API (aliansi pengamat intelejen) berniat membongkar adanya konspirasi kejahatan yang melibatkan para intelejen dari institusi TNI maupun polri yang telah banyak menimbulkan korban dari masyarakat sipil. Tetapi dikarenakan faktor X langkah kamipun dibatasi karena terus terang kami tengah berada dalam pantauan mereka, bahkan beberapa orang diantara mereka pernah menjumpai kami dan berusaha menyuap kami agar permasalahan atau permainan kontra intelejen tidak disebarluaskan ke publik dan cukup hanya kami saja yang mengetahui.

Atas rujukan dan motivasi dari tulisan bapak fauzan al-anshari yang berjudul KILAS BALIK FAKTA BOM BALI I, sebenarnya kamipun mendapatkan fakta maupun data tentang apa yang telah ditulis oleh bapak fauzan al-anshari, akan tetapi karena bapak fauzan telah menuliskannya, maka kami mengeluarkan kegelisahan dan kekhawatiran serta unek-unek kami agar diketahui oleh publik tentang apa dan siapa sebenarnya orang-orang yang bermain dibalik layar kontra intelejen.

Dari semenjak rezim orde baru (era soeharto) kontra intelejen ini telah bermain dan memiliki fungsi vital terhadap kelangsungan jabatan (karir), kekuasaan pada  tampuk pemerintahan Soeharto. Pada waktu itu isyu-isyu tentang komunisme telah dijadikan lahan kerja dan komoditinya intelejen didalam meredam aksi  para aktivis dan masyarakat sipil yang berniat melakukan aksi demo terhadap kinerja pemerintah yang lebih menguntungkan dan mementingkan penguasa dan kroni-kroninya daripada rakyatnya sendiri.

Telah terbukti dari hasil kerja kontra intelejen yang banyak mengorbankan rakyat yang tidak berdosa, kekuasaan soeharto bertahan selama 32 tahun, dan hampir-hampir negara republik ini kebablasan menjadi monarchi (kerajaan). Karena setiap adanya gerakan atau gejala yang dalam bahasa intelejen “merongrong kewibawaan pemerintah”, mereka dipenjarakan masuk kampus kuning sebagai tahanan politik (tapol) lalu hilang lenyap tanpa bekas. Belum lagi dengan banyaknya penculikan-penculikan para aktivis dan pembantaian besar-besaran dalam satu keluarga dengan berlandaskan alasan telah terlibat bahaya laten komunis.

Rezim soeharto yang selalu mengatasnamakan atau mengisyukan bahaya laten komunis yang biasa diisyukan oleh intelejen, khususnya kopassus tidaklah jauh berbeda dengan cara kerja intelejen (kontra intelejen) pada masa rezim SBY sekarang ini. Cuma bedanya disini adalah, isyu-isyu sara selalu dikumandangkan oleh para intelejen era SBY agar rakyat, khususnya kaum muslim saling baku hantam dan saling mencurigai satu sama lain sehingga fikiran masyarakat akan teralihkan untuk tidak konsen alias masa bodo terhadap kinerja pemerintahan yang carut marut.

Isyu-isyu sara sepertinya menurut mereka (intelejen) kurang lengkap, akhirnya isyu-isyu terorisme-pun mulai dihembuskan oleh para intelejen, dan isyu mengenai adanya Bom disuatu tempat seperti Mall dan lain sebagainya itu semua salah satu bagian dari kerjaannya kontra intelejen. Tujuannya tetap sama, yaitu untuk mengalihkan perhatian dan opini publik yang selalu mengamati kinerja pemerintahan SBY yang morat marit itu berikut agar aliran dana jutaan dollar dari australia masuk ke institusi Polri. Tidak ada isyu terorisme dan Bom maka aliran dana jutaan dollar tersebut akan berhenti.

Coba saja kita perhatikan dengan lebih teliti, jika rakyat sudah mulai melakukan aksi unjuk rasa terhadap kinerja pemerintah, maka isyu terorisme-pun dimunculkan dimedia-media, seperti penangkapan teroris, penggerebekan sarang teroris dan lain sebagainya, padahal itu semua hanyalah rekayasanya polri (densus 88) yang memang ditugaskan secara khusus oleh SBY kepada kapolri dan jajarannya, apalagi uang jutaan dollar mengalir dari australia kepada pihak Polri jika isyu-isyu terorisme selalu dikumandangkan oleh mereka.

Begitu juga halnya, jika institusi polri tengah terpuruk, biasanya akan terjadi penangkapan bandar narkoba besar-besaran untuk menunjukkan keberhasilan kinerja polri kepada publik. Disini sudah nyata dan jelas sekali, bahwa SBY telah menjual jiwanya kepada pihak asing (CIA-Mossad) demi mempertahankan kekuasaannya, karena isyu-isyu terorisme dan isyu-isyu sara merupakan titipan pihak asing yang sangat diprioritaskan oleh para intelejen dengan tujuan sebagai character assasination (pembunuhan karakter) terhadap seluruh umat islam. Jadi tetap dibelakang ini semua adalah presiden amerika, Barack Obama.

Sekedar agar diketahui oleh umat islam, sebenarnya barack obama tidaklah sebaik apa yang kita kira. Sekilas ia terlihat seperti peduli terhadap kaum muslim diseluruh dunia, padahal sebenarnya hal itu merupakan bagian dari strategi amerika dengan melakukan pendekatan persuasif dengan umat islam, tetapi dibalik layar politik ia akan kacaukan tataran islam dari dalam dengan tanpa dicurigai oleh umat islam yang telah terbuai oleh ucapan maupun gaya barack obama.

George Walker Bush dengan Barack Obama sebenarnya mempunyai misi dan visi yang sama untuk menghancurkan islam sedunia. Cuma ada perbedaan diantara keduanya, kalau George walker bush terlalu kasar didalam strateginya dan terkesan terang-terangan dengan menunjukkan kebenciaannya terhadap umat islam. Sedangkan Barack Obama bermain cantik sehingga tidak terlihat sama sekali bahwa ia (Barack Obama) dan seniornya (George Walker Bush) sama-sama memusuhi islam tetapi dengan cara dan strategi yang berbeda seperti yang terjadi dengan World Trade Center (WTC), New York-Amerika Serikat, sebenarnya itu perbuatan pihak Amerika sendiri agar seluruh negara mendukung penuh Amerika dalam memberantas terorisme, dan umat islam semakin terpuruk dimata dunia.

Didalam pengamatan kami (API) yang selama bertahun-tahun, kami melihat adanya penyusupan dari pihak intelejen yang telah menyusup kedalam universitas-universitas yang menyamar sebagai mahasiswa-mahasiswi, dan menyusup didalam organisasi-organisasi islam serta ponpes-ponpes maupun majlis-majlis.

Sepertinya kontra intelejen selama tujuh tahun belakangan ini telah bermain diantara keributan dan perkelahian antar suku maupun antar kampung. BINMAS maupun BABINSA terlibat didalamnya dengan memprovokasi warga masyarakat untuk saling serang.

Seperti yang telah sama-sama kita ketahui melalui media elektronik atau media cetak, kapolri (Bambang Hendarso Danuri) berencana akan melakukan pembubaran terhadap ormas Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Rempug (FBR), hal ini merupakan pembodohan publik lainnya yang dilakukan oleh kapolri, padahal kedua ormas ini telah cukup lama dipelihara oleh pihak polri  utuk dijadikan sebagai pionir mereka dalam membuat kerusuhan-kekacauan dan tindakan anarkis dengan mengatasnamakan islam, yang bertujuan untuk pengalihan perhatian publik.

Jadi jelas pembubaran FPI dan FBR merupakan rekayasa semata, karena kongkalingkong dan permainan kontra intelejen serta konspirasi mereka telah tercium oleh publik. Mengenai ketua umum FPI yang pernah masuk sel adalah hanya rekayasa pihak polri semata dengan tujuan agar masyarakat umum mempunyai penilaian, bahwa hukum telah ditegakkan.

Dalam hal kejujuran, kami (API) salut dengan habib abdurrahman assegaf yang telah menceritakan tentang keterlibatan kontra intelejen didalam setiap kerusuhan-kekacauan yang terjadi dengan melibatkan ormas islam seperti FPI dan FBR sebagai underbownya rezim SBY. Kami atas nama API (aliansi pengamat intelejen) mengucapkan terimakasih atas kejujuran dan keberanian habib abdurrahman assegaf yang telah menceritakan keburukan dan kekejaman cara kerja kontra intelejen pada umat islam.

Didalam pengamatan kami (API) ternyata MUI (majelis ulama indonesia) dan Lemkari atau LDI atau LDII telah terlihat pula alam aksi kontra intelejen pada masa rezim SBY, walau sebenarnya pada masa rezim soeharto pun, kedua lembaga ini (MUI dan LDII) sering dimanfaatkan, karena soeharto lah yang telah membentuk dan meresmikan lembaga tersebut, dan sampai saat sekarang kedua lembaga ini tetap dipertahankan dan dipelihara oleh partai golongan karya (golkar).

Semoga apa yang kami (API) tuangkan didalam tulisan ini dapat membuka mata, hati dan fikiran kita sebagai umat islam untuk bersikap lebih waspada dan ekstra hati-hati terhadap gerakan kontra intelejen yang selalu mencari korban untuk dijadikan kambing hitam, karena dalam pengamatan kami (API) sepertinya DAJJAL yang mengeram didalam tubuh intelejen akan melakukan aksinya secara besar-besaran didalam memojokkan umat islam dengan menggunakan senjata isyu-isyu sara dan terorisme. MEREKA ADA DIMANA-MANA DAN DAPAT MENJADI SIAPA SAJA.

Bagi SBY sendiri, dibalik keramahan dan kesantunannya sebenarnya tidaklah sebaik apa yang orang kira, kami menganggap kelicikan, kerakusan dan kejahatan terselubung SBY telah melebihi Soeharto sendiri (mantan presiden RI) hanya ia bermain dengan cantik dan halus sehingga tidak begitu terlihat oleh mata publik. Kami menangkap adanya sinyalemen pencitraan yang lebih dari SBY untuk menuju tahun 2014.

Kami, Aliansi Pengamat Intelejen (API) menghimbau atas nama Allah SWT dan atas nama Muhammad Rasulullah SAW serta atas nama umat muslim berharap agar tulisan kami ini disebarluaskan ke umat islam lainnya agar mereka mamasang mata dan telinga serta bersikap waspada dengan kemungkinan terburuk yang akan dilakukan oleh para intelejen yang kini telah menjual jiwanya kepada pihak asing.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s