ABDURRAHMAN ASSEGAF HABIB KARBITAN

Narasumber

Narasumber: Abdul Muis

CIPUTAT 27 April 2010- nama saya abdul muis, saya termasuk salah seorang dari anggota GUII yang dipimpin oleh habib abdurrahman assegaf. Saya sering diajak oleh habib ketika ia diundang ceramah. Dua bulan awal saya menjadi anggota GUII saya begitu kagum dengan sepak terjangnya habib didalam membasmi kemungkaran dan kebathilan. Tetapi setelah berselang tiga bulan saya menjadi anggota GUII dan semakin dekat dengan habib, kekaguman saya hilang dratis 100%. Begini ceritanya:

Suatu hari saya diajak oleh habib untuk menghadiri undangan ceramah beliau didaerah tangerang, disalah satu masjid dalam acara peringatan maulid nabi SAW. Saya satu kendaraan dengan habib berikut sopir dan dua orang pengawalnya  (anggota GUII) berangkat dari pamulang menuju tangerang. Saat itu habib duduk didepan dekat supir sedangkan saya duduk dikursi belakang bersama dua orang pengawalnya.didalam perjalanan saya sengaja iseng untuk bertanya mengenai apa makna dari maulid nabi kepada habib, tujuan pertanyaan saya adalah untuk mengisi kekosongan di dalam kendaraan.

Saya benar-benar tercengang dan tidak menduga sama sekali dengan jawaban habib mengenai maulid nabi. Habib mengatakan bahwa peringatan maulid nabi itu adalah bid’ah semata, karena dari masa kehidupan nabi muhammad peringatan maulid tidak pernah ada. Lantas saya katakan kepada habib, kenapa habib mau diundang untuk ceramah diacara maulid nabi kalau memang hal itu adalah bid’ah? Jawab habib dengan ringannya,”heh abdul..bagi ane yang penting dibayar..ane gak peduli sekalipun itu bid’ah” mendengar jawaban habib seperti itu akhirnya saya diam saja. Tetapi terus terang jawaban habib itu sangat mengusik hati nurani saya.akhirnya saya menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi sekali tentang diri si habib.

Maaf Bib..saya mau tanya, habib kan berasal dari ambon tapi kenapa menggunakan gelar habib, bukannya habib itu berasal dari timur tengah? Jawab habib, “ente tumben-tumbenan dul nanyain gelar ane segala,ok deh ane jujur ame ente..sebenernye gelar habib itu enggak boleh ada yang make selain rasulullah karena memang enggak ade dalilnye. Nah dul.. ente kan tau rabhitah alawiyyin yang di tanah abang? Die-die orang juga bukan habib.Cuma ngaku-ngaku aja sebagai habib sama kayak ane juga. Segala ane dituduh habib palsu padahal yang dirabhitaht itu same palsunya kayak ane.

Akhirnya sampailah kami di tujuan, dan suasana sudah ramai orang, lalu kami semua dipersilahkan duduk oleh panitia, sambil menunggu waktunya  habib ceramah. Kebetulan saya duduk disamping habib. Lalu ia berbisik ke telinga saya,”dul..ente deketin tuh harim (wanita) yang pake jilbab ungu…ente tanya nomer hpnye bilang ane mau kenalan.” Saya pun akhirnya tahu wanita yang dimaksud habib tersebut. Tetapi saya tidak langsung menghampiri wanita itu, bahkan saya bertanya, “Bib..saya malu nanti apa kata orang?”

Karena saya kelihatan ragu, akhirnya habib menyuruh salah seorang pengawalnya untuk mendekati si wanita yang berjilbab ungu tersebut, dan tak berapa lama kemudian pengawalnya habib memberikan nomor hp wanita itu melalui hpnya kepada habib, lalu habib menelepon wanita itu dan terjadilah percakapan antara habib dengan wanita berjilbab melalui hp.

Setelah acara selesai dan kami pulang menuju pamulang, kira-kira jam 7 malam wanita berjilbab itu datang ke rumah habib dengan taxi, lalu disambut oleh habib sambil menggandeng tubuh wanita itu dan langsung dibawa masuk ke kamarnya . entah apa yang dilakukan didalam kamar antara mereka berdua, karena kira-kira jam 9 malam, habib dan wanita itu keluar dari dalam kamar lalu habib menyuruh supirnya untuk mengantar pulang perempua tersebut dengan mobil jaguar hitamnya.

Sebodoh-bodohnya saya, saya tahu betul apa yang sebenarnya telah terjadi didalam kamar antara si habib dengan wanita yang bukan muhrimnya tersebut dan selama saya mengikuti habib, saya belum pernah sekalipun melihat habib ini menjalankan sholat lima waktu,terkecuali jika ada undangan, itupun seperti dipaksakan karena ia disuruh menjadi imam oleh panitia. Suatu ketika saya pernah ditawarkan pinjaman oleh si habib dengan alasan untuk membantu isi dapur saya, tetapi saya tolak. Lalu ia menyuruh saya untuk mencari orang yang butuh pinjaman uang dan ia bersedia meminjamkannya asalkan dengan syarat membawa jaminan seperti surat rumah, surat tanah dan sebagainya.

Penilaian saya pun muncul mengenai diri si habib, dan didalam hati saya mengatakan bahwa ada sisi yang baik didiri habib. Kurang lebih seminggu kemudian saya membawa 7 orang kerumah si habib yang sangat membutuhkan uang pinjaman tersebut. Ketujuh orang yang saya bawa itu diberikan pinjaman sesuai kebutuhan mereka dan tentunya dengan jaminan (surat rumah,tanah dsb). Saya tidak mendengar apa yang dibicarakan si habib dengan 7 orang yang saya bawa itu, karena saya menunggu di luar pinggir jalan depan rumah habib.

Kurang lebih satu jam kemudian ketujuh orang itu keluar dari dalam ruang tamu habib, lalu saya pergi mengantar pergi mereka pulang, karena dari salah satu ketujuh orang itu adalah bibi saya sendiri. Diperjalanan menuju ciputat dengan menggunakan mobil sewaan hasil kolektif, saya iseng-iseng menanyakan tentang isi surat perjanjian pinjaman uang mereka dengan si habib. Saya terkejut ketika mereka memperlihatkan surat perjanjian dimana disebutkan, bahwa disamping ada jaminan, merekapun disuruh mengembalikan uang yang mereka pinjam itu sebanyak 3x lipat diluar nilai uang pokok dan pengembalian ini belum termasuk bunga 50%.

Ketujuh orang yang meminjam uang itu hanya diberi batas waktu selama tiga bulan untuk mengembalikan uang yang mereka pinjam itu, jika batas waktu habis dan uang pinjaman tidak kembali, maka surat-surat rumah maupun tanah yang dijaminkan itu akan menjadi miliknya si habib. Tentu saja saya merasa tidak enak hati dengan perbuatan habib seperti itu terhadap orang-orang yang saya bawa. Saya menganggap cara pinjaman si habib bukanlah bersifat menolong tetapi membebani uang yang sedang mendapat kesulitan.

Saya pun sempat menegur mereka, kenapa mereka mau menandatangani surat perjanjian itu. Mereka mengatakan tidak tahu menahu isi surat perjanjian tersebut dan setelah penandatanganan selesai, uang yang mereka butuhkan diberi merekapun langsung disuruh pulang dengan alasan dirinya ada undangan dan harus segera berangkat, jadi mereka belum sempat membaca isi surat perjanjian itu, karena mereka beranggapan apa yang dibicarakan si habib itu, sama dengan isi perjanjian yang tertulis tersebut. Ketujuh orang yang saya bawa pada akhirnya terkejut juga dan kelihatan kekhawatiran diwajah mereka setelah saya ceritakan isi surat perjanjian yang mereka pegang itu.

Akhirnya setelah mengantarkan mereka ke rumahnya masing-masing, akhirnya sayapun kembali mendatangi si habib dengan hati mengkal, karena saya merasa bersalah terhadap orang-orang yang saya bawa termasuk bibi saya, apalagi mereka adalah para wanita yang sudah berumur. Ketika berhadapan dengan habib saya langsung menegurnya tentang perjanjian pinjaman yang menurut saya sama saja dengan perbuatan rentenir dan riba. Si habib marah kepada saya sambil mengucapkan kata-kata sumpah serapah, segala macam nama binatang ia sebut terhadap diri saya.

Saya masih ingat apa yang ia katakan, “eh dul..ente jangan anggap ane rentenir dong, ane kan udeh nolongin ibu-ibu tadi, harusnya ente bersyukur ama ane. Orang-orang yang ente bawa tadi ane tolong, lagian juga apa urusannya ame ente, duit-duit ane, ibu-ibu tadi juga enggak komplein kok ame ane…kenapa ente yang mongsang-mangsing?”

Jawab saya; “bukan begitu bib, saya jagi enggak enak sama mereka, karena apa yang habib omongin sama mereka tidak sama dengan apa yang ada di tulisan perjanjian, ini namanya menjebak bib..kasian dong mereka..mereka bener-bener lagi susah bib..”

Jawab habib dengan marah dan mata melotot sambil menunjuk-nunjuk kearah saya, “kalo gitu..ente enggak secara langsung nganggap ane penipu? Ente mau lapor ame polisi? Silahkan..ane enggak takut..ane banyak beking kok..! bisa-bisa malah ente yang diciduk ”

Setelah berkata demikian, si habib ke dalam dan tak berapa lama kemudian ia ke ruang tamu lagi menemui saya sambil menjinjing tas berwarna hitam lalu mengeluarkan isinya didepan saya yang ternyata berupa senjata api (pistol) sebanyak 8 buah dan meletakannya diatas meja, lalu ia mengelap satu per satu pistol tersebut dengan kain sambil mengeluarkan tempat peluru dari dalam pistol. Melihat hal itu, saya tahu tujuan habib adalah untuk menakut-nakuti saya.

Terus terang, selama mengikuti habib, saya baru tahu watak aslinya habib seperti itu. Akhirnya walau agak sedikit takut, saya tetap memberanikan diri untuk berupaya agar habib mau membatalkan surat perjanjian surat perjanjian pinjaman itu, “maaf bib..saya bukan menuduh habib penipu..sepertinya seorang yang memakai gelar habib bukankah tidak pantas melakukan perbuatan rentenir dan memakan uang riba?

Jawab habib,”kalo ane enggak pake cara begini…ane enggak bakalan punya mobil-mobil keren. Biar ente tau.. seluruh habib kerjaannye sama seperti ane..tukang minjemin duit juga..kenape ente engga protes ama tuh habib-habib…jangan ke ane aje dong.. ente juga kan ngerasain naik mobil jaguar ane.

Akhirnya dari semenjak itulah kekaguman saya dengan habib karbitan ini hilang secara drastis dan saya mengundurkan diri dari keanggotaan GUII yang ternyata saya ketahui juga memang tidak ada anggotanya alias fiktif. Saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah swt karena IA telah membuka mata dan hati  saya tentang kebejatan habib abdurrahman assegaf yang sesungguhnya, semoga umat islam yang membaca tulisan saya ini untuk bersikap hati-hati terhadap bujuk rayu dan hasutan si habib karbitan ini.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s